Ada sebuah kemarahan
sore, kemarahan saat mahasiswanya tidak bertindak seperti orang-orang ilmiah,
ya saya melihat dengan jelas raut kemarahannnya di dalam matanya, raut
kemarahan bercampur kekecewaan.
Saat beberapa
mahasiswanya tidak bisa menjawab pertanyaannya dengan sistematik. Dia pun
menjelaskan agar mahasiswa sekarang kalau berbicara itu harus faktual,
sistematis, dan logis. Mungkin itulah hal-hal yang tidak dapat sekembalinya dia
dari pengembaraannya mendapatkan ilmu dari luar negeri.
Kemarahan itu terasa seperti
kerinduan saya akan dunia ide saya yang mengingkan lingkungan saya seperti itu,
selayaknya mahasiswa harus seperti itu, tapi yg kita lihat sekarang adalah
kecendrungan kita menjadi robot biologis yang selalu bekerja tanpa memeprtanyakan
sebab dan akibat dari pekerjaan kita, yang puas dengan obrolan-obrolan
konsumerisme dan kebodohan hingga keangkuhan premanisme. Sampai pada debat
menuju ketololan yang selalu mencari pembenaran tanpa intropeksi diri
Timbulah pertanyaan
saya akan kenapa mahasiswa negara ini menjadi seperti ini, menjadi robot
biologis. Keyakinan saya menuju pada tak pernahnya kita memasuki dunia
filsafat. Tak pernahnya anak bangsa ini dikenalkan oleh pendidikan pada
filsafat, filsafat yang sebagai pembentuk dasar pola pikir manusia menuju
kebijaksanaan.
Tak heran bangsa ini
tak pernah belajar dari sejarah,, dan tak pernah mencari tahu keganjilan
sejarah negara ini, apalagi marah saat dibohongi soal sejarah. Efeknya menyatu
dalam bumi, bumi dierkosa habis-habisan oleh mereka yang membohogi kita soal
sejarah, oleh mereka yang menjauhka kita dari filsafat. Atas nama kekayaan
pribadi kita dibodohi, bumi diperkosa. Kita dijuahkan dari kata kebijaksanaan
Kita tak akan pernah
bijaksana saat kita jauh dari pondasi bijaksana itu, filsafat sudah seharusnya
kita mengenal ilmu itu, mepelajarinya seperti orang yang haus akan kedamaian. Negara
sudah seharusnya mengenalkan filsafat agar warga negaranya lebih bijak dalam
hidup. Lebih faktual, sistematis dan logis.
Beliau, dosen saya
berkata sore itu ”saya sudah berumur 65 tahun mungkin tak lama lagi saya sudah
tiada, kamu-kamulah (generasi muda) yang akan merasakan penderitaan akibat olah
pemerkosa bumi ini”.
Berkenalanlah dengan
kebijaksanaan itu. Namanya filsafat.
