Jumat, 11 Maret 2016

Kita Jauh Dari Kebijaksanaan









Ada sebuah kemarahan sore, kemarahan saat mahasiswanya tidak bertindak seperti orang-orang ilmiah, ya saya melihat dengan jelas raut kemarahannnya di dalam matanya, raut kemarahan bercampur kekecewaan.
Saat beberapa mahasiswanya tidak bisa menjawab pertanyaannya dengan sistematik. Dia pun menjelaskan agar mahasiswa sekarang kalau berbicara itu harus faktual, sistematis, dan logis. Mungkin itulah hal-hal yang tidak dapat sekembalinya dia dari pengembaraannya mendapatkan ilmu dari luar negeri.
Kemarahan itu terasa seperti kerinduan saya akan dunia ide saya yang mengingkan lingkungan saya seperti itu, selayaknya mahasiswa harus seperti itu, tapi yg kita lihat sekarang adalah kecendrungan kita menjadi robot biologis yang selalu bekerja tanpa memeprtanyakan sebab dan akibat dari pekerjaan kita, yang puas dengan obrolan-obrolan konsumerisme dan kebodohan hingga keangkuhan premanisme. Sampai pada debat menuju ketololan yang selalu mencari pembenaran tanpa intropeksi diri
Timbulah pertanyaan saya akan kenapa mahasiswa negara ini menjadi seperti ini, menjadi robot biologis. Keyakinan saya menuju pada tak pernahnya kita memasuki dunia filsafat. Tak pernahnya anak bangsa ini dikenalkan oleh pendidikan pada filsafat, filsafat yang sebagai pembentuk dasar pola pikir manusia menuju kebijaksanaan.
Tak heran bangsa ini tak pernah belajar dari sejarah,, dan tak pernah mencari tahu keganjilan sejarah negara ini, apalagi marah saat dibohongi soal sejarah. Efeknya menyatu dalam bumi, bumi dierkosa habis-habisan oleh mereka yang membohogi kita soal sejarah, oleh mereka yang menjauhka kita dari filsafat. Atas nama kekayaan pribadi kita dibodohi, bumi diperkosa. Kita dijuahkan dari kata kebijaksanaan
Kita tak akan pernah bijaksana saat kita jauh dari pondasi bijaksana itu, filsafat sudah seharusnya kita mengenal ilmu itu, mepelajarinya seperti orang yang haus akan kedamaian. Negara sudah seharusnya mengenalkan filsafat agar warga negaranya lebih bijak dalam hidup. Lebih faktual, sistematis dan logis.
Beliau, dosen saya berkata sore itu ”saya sudah berumur 65 tahun mungkin tak lama lagi saya sudah tiada, kamu-kamulah (generasi muda) yang akan merasakan penderitaan akibat olah pemerkosa bumi ini”.

Berkenalanlah dengan kebijaksanaan itu. Namanya filsafat.