Gugusan
Karst Sangkulirang Mangkalihat menjadi awal mula tempat saya mengikuti sebuah
kegiatan yang bernada konservasi, menjadi surveyor spelelologi di 6 lokasi
berbeda dalam waktu 2 bulan membuat banyak kisah yang akan saya tuturkan
nantinya.
Tapi
sebelumnya saya mengisahkan sedikit problematika gugusan karst sangkulirang
mangkalihat, baru-baru ini saja terjadi kekhawatiran terhadap kelangsungan
nasib kawasan tersebut setelah beberapa perusahaan semen ingin mengeruk karst
tersebut. Perusahaan tersebut pun mendapat perlawanan dari kubu yang pro dengan
konservasi kawasan tersebut agar Gubernur mencabut izin tersebut.
Saya
sendiri pun sangat menyangkan sikap negara yang rela menjual alam demi
keuntungan kapitalis. Mengabaikan pentingnya kawasan karst sebagai bagian dari
ekosistem hanya demi keuntungan sesaat. Sekali lagi manusia menyebut kerusakan alam dengan nama
pembangunan.
Kisah
hubungan manusia dengan karst tersebut lah yang akan saya angkat terkhususnya
sebuah bentuk mata pencaharian yang ”diciptakan” oleh karst yaitu pencari
sarang walet. Tapi kata pencari disini bukan kata pada umumnya melainkan
pencarian yang menuntut seseorang bertaruh nyawa, baik ancaman terhadap pencari
lainnya maupun terhadap resiko di hutan.
Kita
bisa sedikit membayangkan film Pirates of Caribbian dengan tokoh utama Jack
Sparrow mencari harta karun di lautan dan terkadang pun merompak kapal lainnya
yang mengangkut harta karun. Tapi yang terjadi di Karst Sangkulirang
Mangkalihat bukanlah fiksi dan tidak berada dilautan melainkan hutan batu
kapur.
Mereka
lebih memilih kata perampok, ya seperti perampok pada umumnya mereka tidak
hanya mencari sarang walet di dalam goa tapi juga dengan segala cara merebut
sarang walet yang sudah dipetik oleh pencari lainnya.
Dimulai
dari goa
Walet-walet
yang membuat sarang didalam goa sebagai tempat mereka berkembang biak maupun
melangsungkan hidup. Menjadi bagian dari ekosistem goa yang rumit dan komplek.
Berada dalam lokasi yang minim dari cahaya membuat walet menempatkan
sarang-sarang mereka didalam goa.
Goa
yang merupakan tempat gelap dan sedikit tersembunyi tidak menjadi halangan dari
beberapa pencari sarang walet untuk memetik hasil bumi tersebut. Berbekal
peralatan seadanya dan peralatan dari alam berupa rotan dan kayu yang minim
sekali dari segi keselamatan. Tanpa alat penerangan yang memadai, para pencari
sarang walet memasuki goa hingga memetik dan kembali keluar semua jauh dari
kata “safety first”.
Agar
melancarkan aksi mereka, pondok-pondok sederhana pun dibuat demi kenyamanan
mereka, kebanyakan berada di mulut goa
karena bisa terhindar dari hujan. Kami pun memanfaatkan bekas pondok mereka
dalam melancarkan kegiatan survey
Hingga
darah berjatuhan.
Sisi
yang menarik dari para pencari walet ini adalah sistem rampok merampok mereka,
mereka mempunyai semacam prinsip –dihutan tak ada kawan, hanya ada lawan- atau
–siapa kuat dia menang-. Para perampok itu jika bersosial dikampung dengan
perampok lainnya nampak tak ada permusuhan diantara mereka, layaknya berkawan
seperti biasa. Namun menjadi hal yang menarik motivasi mendapatkan sarang walet
yang beromset puluhan juta membuat mereka melupakan sejenak sisi manusianya,
menjadikan mereka seperti kawanan singa yang kelaparan.
Salah
satu contoh kasus yang saya dengar dari warga setempat, yaitu Kampung
Pengadaan, Kabupaten Kutai Timur bahwa di tahun 1990an pernah terjadi kasus dua
orang pencari walet masuk kedalam sebuah goa vertikal dengan menggunakan tali
tambang, semua berjalan lancar hingga saat orang pertama berhasil naik dan
orang kedua mengirimkan sarang walet ke atas dengan tali, saat orang kedua
sedang berusaha naik, orang pertama memotong tali dan orang kedua tersebut
terjatuh hingga meninggal dunia. Namun nasib tidak berpihak pada orang pertama
tadi di perjalanan dia dirampok oleh sekawanan hingga diikat dan menceritakan
kejadian tersebut kepada kawanan perampok tersebut. Menurut penuturan orang
desa tulang belulang orang kedua masih ada didalam goa tersebut.
Masih
dikawasan Kampung Pengadaan didaerah Goa Kambing bahwa dengan morfologi yang
berbukit menjadikan para pencari walet menamai satu tempat istirahat setelah
menaiki satu bukit, tempat yang terkenal adalah Liang Nafas. Ditempat tersebut
menjadikan para perampok sering bertemu dengan perampok lainnya sehingga adu
senjata angin tidak bisa terelakan lagi.
Kebiasaan
para perampok tersebut susah untuk dihilangkan, hingga perampok yang kami
rekrut menjadi porter dalam kegiatan ekspedisi kami tersebut didua tempat yaitu
Kampung Pengadaan dan Kampung Karangan Dalam , tetap melakukan pencarian sarang
walet saat kami mengambil data di dalam goa.
Bahkan
di Karangan Dalam di daerah Lubang Tondoyan salah satu porter kami memang
mengetahui lokasi goa-goa yang ada didaerah sekitar, namun dua orang porter
lainnya adalah saingannya dalam mencari sarang walet, misi terselubung yaitu
mengetahui lubang-lubang yang mempunyai potensi sarang walet.
Cerita
yang menarik pula dan sedikit mengherankan saya adalah ketika pada periode 2
bulan Oktober kemarin, di daerah Mangkajang, Desa Pesayan, Kecamatan
Sambaliung, Kabupaten Berau. Porter kami yang masih menjadi penjaga sarang
walet bercerita dulunya, dia pernah suatu malam menjaga sarang walet di pondok
tempat dia sendirian, dan malamnya juga dia disekap oleh 3 orang , setelah dada
dipukul dengan gagang senjata angin kemudian dia di ikat dengan sebelumnya dia
hanya dilucuti hingga hanya menyisakan celana dalamnya saja, sepatu dan baju
dirobek, selain itu dia hanya ditinggali satu buah korek. Dan tentu saja goa
yang dia jaga hasil sarang waletnya ludes habis tak tersisa.
Selama
penyekapan dia menyadari pelakunya siapa-siapa saja, yaitu teman satu kostnya
sendiri. Dia mencurigai bahwa teman-temannya itu tergiur dengan sarang walet
dari cerita dia selama berkumpul dikost.
Apa
yang membuat mereka semua sangat tidak manusiawi?
Saya
dari sudut pandang dan pengalaman saya, adalah susahnya hidup didesa, bahan
baku yang begitu mahal harganya ditambah susahnya mencari pemasukan tetap, saat
mencoba untuk bercocok tanam tapi selalu digagalkan oleh negara secara tidak
langsung lewat kebijakan impor hasil pertanian, membuat hasil bumi mereka tidak
laku dipasaran. Alhasil mereka mencari jalan pintas kehidupan dengan
menghalalkan segala cara.
Belum
lagi konflik agraria yang melibatkan pihak perusahaan (kapitalis) sawit, tambang, hingga kayu dengan desa. Terpaksa
menggusur lahan mereka untuk bercocok tanam,bukan hanya itu limbah perusahaan itu
pun mencamari sungai-sungai yang mengalir, mencemari air minum mereka dan
sumber pengairan mereka. Lantas saya bilang kapitalis dan tunggangan mereka
yaitu negara membuat para pencari sarang walet itu menjadi tidak manusiawi.