Kamis, 08 Desember 2016

Sisi Lain Karst : Perompak

Gugusan Karst Sangkulirang Mangkalihat menjadi awal mula tempat saya mengikuti sebuah kegiatan yang bernada konservasi, menjadi surveyor spelelologi di 6 lokasi berbeda dalam waktu 2 bulan membuat banyak kisah yang akan saya tuturkan nantinya.
Tapi sebelumnya saya mengisahkan sedikit problematika gugusan karst sangkulirang mangkalihat, baru-baru ini saja terjadi kekhawatiran terhadap kelangsungan nasib kawasan tersebut setelah beberapa perusahaan semen ingin mengeruk karst tersebut. Perusahaan tersebut pun mendapat perlawanan dari kubu yang pro dengan konservasi kawasan tersebut agar Gubernur mencabut izin tersebut.
Saya sendiri pun sangat menyangkan sikap negara yang rela menjual alam demi keuntungan kapitalis. Mengabaikan pentingnya kawasan karst sebagai bagian dari ekosistem hanya demi keuntungan sesaat. Sekali lagi  manusia menyebut kerusakan alam dengan nama pembangunan.
Kisah hubungan manusia dengan karst tersebut lah yang akan saya angkat terkhususnya sebuah bentuk mata pencaharian yang ”diciptakan” oleh karst yaitu pencari sarang walet. Tapi kata pencari disini bukan kata pada umumnya melainkan pencarian yang menuntut seseorang bertaruh nyawa, baik ancaman terhadap pencari lainnya maupun terhadap resiko di hutan.
Kita bisa sedikit membayangkan film Pirates of Caribbian dengan tokoh utama Jack Sparrow mencari harta karun di lautan dan terkadang pun merompak kapal lainnya yang mengangkut harta karun. Tapi yang terjadi di Karst Sangkulirang Mangkalihat bukanlah fiksi dan tidak berada dilautan melainkan hutan batu kapur.
Mereka lebih memilih kata perampok, ya seperti perampok pada umumnya mereka tidak hanya mencari sarang walet di dalam goa tapi juga dengan segala cara merebut sarang walet yang sudah dipetik oleh pencari lainnya.
Dimulai dari goa
Walet-walet yang membuat sarang didalam goa sebagai tempat mereka berkembang biak maupun melangsungkan hidup. Menjadi bagian dari ekosistem goa yang rumit dan komplek. Berada dalam lokasi yang minim dari cahaya membuat walet menempatkan sarang-sarang mereka didalam goa.
Goa yang merupakan tempat gelap dan sedikit tersembunyi tidak menjadi halangan dari beberapa pencari sarang walet untuk memetik hasil bumi tersebut. Berbekal peralatan seadanya dan peralatan dari alam berupa rotan dan kayu yang minim sekali dari segi keselamatan. Tanpa alat penerangan yang memadai, para pencari sarang walet memasuki goa hingga memetik dan kembali keluar semua jauh dari kata “safety first”.
Agar melancarkan aksi mereka, pondok-pondok sederhana pun dibuat demi kenyamanan mereka,  kebanyakan berada di mulut goa karena bisa terhindar dari hujan. Kami pun memanfaatkan bekas pondok mereka dalam melancarkan kegiatan survey
Hingga darah berjatuhan.
Sisi yang menarik dari para pencari walet ini adalah sistem rampok merampok mereka, mereka mempunyai semacam prinsip –dihutan tak ada kawan, hanya ada lawan- atau –siapa kuat dia menang-. Para perampok itu jika bersosial dikampung dengan perampok lainnya nampak tak ada permusuhan diantara mereka, layaknya berkawan seperti biasa. Namun menjadi hal yang menarik motivasi mendapatkan sarang walet yang beromset puluhan juta membuat mereka melupakan sejenak sisi manusianya, menjadikan mereka seperti kawanan singa yang kelaparan.
Salah satu contoh kasus yang saya dengar dari warga setempat, yaitu Kampung Pengadaan, Kabupaten Kutai Timur bahwa di tahun 1990an pernah terjadi kasus dua orang pencari walet masuk kedalam sebuah goa vertikal dengan menggunakan tali tambang, semua berjalan lancar hingga saat orang pertama berhasil naik dan orang kedua mengirimkan sarang walet ke atas dengan tali, saat orang kedua sedang berusaha naik, orang pertama memotong tali dan orang kedua tersebut terjatuh hingga meninggal dunia. Namun nasib tidak berpihak pada orang pertama tadi di perjalanan dia dirampok oleh sekawanan hingga diikat dan menceritakan kejadian tersebut kepada kawanan perampok tersebut. Menurut penuturan orang desa tulang belulang orang kedua masih ada didalam goa tersebut.
Masih dikawasan Kampung Pengadaan didaerah Goa Kambing bahwa dengan morfologi yang berbukit menjadikan para pencari walet menamai satu tempat istirahat setelah menaiki satu bukit, tempat yang terkenal adalah Liang Nafas. Ditempat tersebut menjadikan para perampok sering bertemu dengan perampok lainnya sehingga adu senjata angin tidak bisa terelakan lagi.
Kebiasaan para perampok tersebut susah untuk dihilangkan, hingga perampok yang kami rekrut menjadi porter dalam kegiatan ekspedisi kami tersebut didua tempat yaitu Kampung Pengadaan dan Kampung Karangan Dalam , tetap melakukan pencarian sarang walet saat kami mengambil data di dalam goa.
Bahkan di Karangan Dalam di daerah Lubang Tondoyan salah satu porter kami memang mengetahui lokasi goa-goa yang ada didaerah sekitar, namun dua orang porter lainnya adalah saingannya dalam mencari sarang walet, misi terselubung yaitu mengetahui lubang-lubang yang mempunyai potensi sarang walet.
Cerita yang menarik pula dan sedikit mengherankan saya adalah ketika pada periode 2 bulan Oktober kemarin, di daerah Mangkajang, Desa Pesayan, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau. Porter kami yang masih menjadi penjaga sarang walet bercerita dulunya, dia pernah suatu malam menjaga sarang walet di pondok tempat dia sendirian, dan malamnya juga dia disekap oleh 3 orang , setelah dada dipukul dengan gagang senjata angin kemudian dia di ikat dengan sebelumnya dia hanya dilucuti hingga hanya menyisakan celana dalamnya saja, sepatu dan baju dirobek, selain itu dia hanya ditinggali satu buah korek. Dan tentu saja goa yang dia jaga hasil sarang waletnya ludes habis tak tersisa.
Selama penyekapan dia menyadari pelakunya siapa-siapa saja, yaitu teman satu kostnya sendiri. Dia mencurigai bahwa teman-temannya itu tergiur dengan sarang walet dari cerita dia selama berkumpul dikost.
Apa yang membuat mereka semua sangat tidak manusiawi?
Saya dari sudut pandang dan pengalaman saya, adalah susahnya hidup didesa, bahan baku yang begitu mahal harganya ditambah susahnya mencari pemasukan tetap, saat mencoba untuk bercocok tanam tapi selalu digagalkan oleh negara secara tidak langsung lewat kebijakan impor hasil pertanian, membuat hasil bumi mereka tidak laku dipasaran. Alhasil mereka mencari jalan pintas kehidupan dengan menghalalkan segala cara.

Belum lagi konflik agraria yang melibatkan pihak perusahaan (kapitalis)  sawit, tambang, hingga kayu dengan desa. Terpaksa menggusur lahan mereka untuk bercocok tanam,bukan hanya itu limbah perusahaan itu pun mencamari sungai-sungai yang mengalir, mencemari air minum mereka dan sumber pengairan mereka. Lantas saya bilang kapitalis dan tunggangan mereka yaitu negara membuat para pencari sarang walet itu menjadi tidak manusiawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar